di Rumah IPMALAY

Andainya kita tau, jika kita berdinamika di Rumah IPMALAY...
Jika kita hidup di Rumah IPMALAY, kita akan saling belajar...

Jika kita hidup dalam kritik, kita akan belajar mengutuk.
Jika kita hidup dalam kekerasan, kita akan belajar berkelahi.
Jika kita hidup dalam pembodohan, kita akan belajar jadi pemalu.
Jika kita hidup dalam rasa dipermalukan, kita belajar terus merasa bersalah.
Jika kita hidup dalam toleransi, kita akan belajar menjadi sabar.
Jika kita hidup dalam dorongan, kita akan belajar menjadi percaya diri.
Jika kita hidup dalam penghargaan, kita akan belajar mengapresiasi.
Jika kita hidup dalam rasa adil, kita akan belajar keadilan.
Jika kita hidup dalam rasa aman, kita akan belajar yakin.
Jika kita hidup dalam persetujuan, kita akan belajar menghargai diri sendiri.
Jika kita hidup dalam rasa diterima dan persahabatan, kita akan belajar mencari cinta di seluruh dunia.

Lantas, menurut anda, apakah kita sudah hidup seperti itu di Rumah IPMALAY, Rumah Labuhan Batu, Rumah Indonesia, atau bahkan di muka bumi ini?

Atau seperti apakah seharusnya kita hidup di Rumah-Rumah besar tersebut? Yang telah membangun, menaungi, membesarkan sekaligus mencintai kita, dan jarang sekali (mungkin) kita balik mencintainya...

Atau kita jual saja Bangsa ini?... untuk bangga saja pun susah!!!
Kalau kau malas belajar, tak apalah... tapi jangan jadi sampah!
Hidup ini sudah susah, tapi kalau mau tambah susah jangan ngajak berjama'ah...
Atau kita jual saja Bangsa ini, lumayan kan buat nyambung hidup... Kalau tak laku, kita gadaikan saja, orang2 tua kita juga sudah lama melakukannya, kenapa mesti sungkan...
Kalau begini terus, punah saja kita!!



3 malam bersama masalah dan wacana... Semoga menjadi lesson learned untuk semua... Walau masih banyak yang terlewatkan, masih banyak waktu mengejar yang tertinggal dan terlewatkan, selama masih saling bergenggam, dalam cinta dan kebersamaan... Mohon semua tak henti langkah, gali referensi lebih dalam, bangkit dari jiwa Inferior yg lama mengerdilkan kita... Dan smoga tak hanya membangun superioritas tanpa jiwa... bukan sebatas eksistensi...

I Smile: Jaga proses transformasi, maksimalkan media yang ada, forum dan pendekatan personal adalah cara, sama efektifnya, tergantung komunikannya... tapi tetap berkarya, karena wacana harus dibenturkan dengan realita... barulah akan bermakna... Jaga komitmen dan konsistensi pada semua peubah dunia!



IPMALAY pasca pemekaran Labuhanbatu?

Let us thinkin' 'bout it...


UU Pemekaran LB Selatan


UU Pemekaran LB Utara


Menempatkan Harapan Bangsa Pada Mahasiswa Daerah

Rotasi pembangunan bangsa ini terus berputar dengan berbagai bentuk variasi tantangan yang dihadapinya, sedikit membaca sejarahnya maka mahasiswa mendapat porsi istimewa dalam sistem rotasi bangsa ini. Lahirnya sumpah pemuda, terbentuknya reformasi merupakan hasil kerja heroik kelompok intelek tersebut sehingga mahasiswa menjadi strata sakral dalam tatanan sosial bangsa ini dan menginpirasi generasi sesudahnya (pelajar) mengidamkan untuk dapat memakai jas almamaternya dan menjadi mahasiswa.

Pada Tahun 2008 ini kita memperingati 100 Tahun kebangkitan Nasional, 80 Tahun Sumpah Pemuda dan 10 Tahun Reformasi, dengan momentum ini memori kita diangkat kembali untuk mengingat dan mengakui peranan mahasiswa kita.

Waktu terus berlalu dan rotasi sejarah harus terus bekerja. Tahun ini kita memperingati perjuangan mahasiswa dan juga pada saat yang bersamaan kita akan mempertanyakan komitmen mahasiswa, sebab semakin banyak perguruan tinggi dan disiplin ilmu yang ditawarkan dan semakin banyak jumlah mahasiswa yang kita miliki ternyata bangsa kita masih bergelut dengan masalah klasik kemiskinan, pengangguran, gizi buruk yang memaksa kita untuk menagih pertanggungjawaban dari mahasiswa dengan gelar kesarjanaan yang mereka miliki.




Traumatic Intellectual

Melihat berbagai macam peristiwa kemanusiaan yang terjadi, masihkah masyarakat kita memberi posisi luang bagi mahasiswa dalam sistem rotasi bangsa ini? “wujuduhu kaadamihi” Sepertinya Masyarakat tidak lagi selera dengan status mahasiswa tersebut, Mahasiswa sudah tidak mampu mecari solusi untuk membantu menyelesaikan realita pada masyarakat. Sarjana Pertanian tidak mampu membuat sistem pertanian yang utuh sehingga mampu membantu masyarakat untuk membangn system pertanian yang baik dan memang masyarakat kita kebanyakan petani, Sarjana Ekonomi tidak mampu menemukan dan menjalankan strategi perekonomian yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan sistem perekonomian yang baik, Mahasiswa yang memiliki kesarjanaan dalam bidang kesehatan hampir tidak bisa membantu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat bahkan semakin banyak terdapat dalam masyarakat kasus gizi buruk, busung lapar dan berbagai kasus kontradiksi lainnya. Sikap pesimis masyarakat ini diungkapkan dengan kata-kata “ buat apa kuliah, habis-habiskan duit “. “sense of awareness “ terhadap lingkungan, kemiskinan, kebodohan yang mengitari rutinitas kegiatan sehari-harinya telah hilang sebab mahasiswa memang tidak bisa berbuat apa-apa. Mahasiswa lebih suka dengan proyek korporat yang ia dapatkan daripada menangani proyek sosial yang ada disekitar dan selalu berada dihadapannya.




Bertanya Pada Al-Qur’an

Sebagai umat islam tentulah kita kembali mencari solusi tentang fenomena ini dari kitab panduan hidup kita Al-Qur’an. Apa sebenarnya konsep Al-Qur’an mengenai tanggung jawab kaum intelek. Dalam surah At-taubah 122 Allah berfirman :

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Dalam ayat diatas Allah SWT mengingatkan agar tidak semua orang mu’min bersikap all out pada satu konsentrasi masalah (berperang) namun ada pembagian tugas bagi sebagian yang lain untuk mencari dan memperdalam ilmu pengetahuan dimanapun, kemudian tanggung jawab berikutnya bagi penuntut ilmu adalah kembali ke masyarakatnya untuk melakukan “ sharing knowledge “ (memberi tarbiyah) dan dengan tarbiyah ini agar masyarakatnya juga mempunyai modal keilmuan yang dapat menjaga dirinya dari pembodohan, penipuan kezaliman dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab, janganlah kamu menjermuskan diri kamu kedalam kesesatan.

Disadari ayat ini akan mengangkat perdebatan bagi kita semua “kembali (roja’uu)“ seperti apa yang diinginkan Al-Quran. Dari berbagai koleksi redaksional yang termaktub dalam beberapa ayat dalam Al-Quran maka ada dua opsi aktualisasi diri dalam terminologi Roja’uu. Opsi Pertama adalah dengan cara kembali secara Physicly dan juga Mindset (Fikrah & Jasadiyah) yaitu pulang kampung untuk menjadi katalisator aktif membangun daerah dan masyarakat, Opsi Kedua adalah kembali secara mindset (Fikrah) yaitu dengan cara mentransformasikan keilmuan yang dimiliki untuk membangun daerah asal meski tidak harus pulang kampung. Dibutuhkan kerjasama yang intens bagi mahasiswa yang berjuang pada opsi pertama dan yang berjuang dengan memilih opsi kedua.

Organisasi Mahasiswa Daerah Sebagai Media Sharing Knowledge

Realita ironi dalam masyarakat kita saat ini menuntut kita untuk lebih memberdayakan sense of humanism yang memang menjadi fitrah dan sudah kita miliki. Namun untuk pencapaian yang sempurna tujuan yang baik mestilah dilakukan dengan cara-cara yang baik (terorganisir). Banyak aset-aset sosial yang sudah lama kita miliki dan sekaranglah saatnya kita akan memetiknya sehingga kita memperoleh demografi deviden yang memuaskan untuk pembangunan masyarakat. Kebanyakan daerah bahkan ditingkat desa saat ini sudah banyak memiliki putra daerahnya yang menjadi mahasiswa dengan berbagai disiplin keilmuannya, Sayangnya potensi keilmuan yang dimiliki tidak diupayakan untuk dieksplorasi (diamalkan) sebagian merasa tidak mampu untuk mentransformasikan keilmuannya dan sebagian merasa keilmuan yang dimilki sangat minim sehingga menimbulkan sikap kurang percaya diri. Padahal jika disadari sekecil apapun keilmuan yang dimiliki adalah rezeki yang telah diberikan oleh Allah Swt yang harus disyukuri dan berupaya untuk melakukan akselerasi bersama.

Harapan pada Pemerintah

Zaman sekarang masyarakat kita sudah lebih kritis terhadap persoalan yang dihadapi, sedikit lebih maju daipada pada saat rezim orde baru berkasa yang berhasil menyuntik masyarakat dengan paradigma bahwa yang paling tahu tentang semuanya dan paling mampu menyelesaikan semua masalah adalah otoritas pemerintah. Syukur paradigma tersebut mulai hilang dari masyarakat kita yang juga akan memunculkan harapan akan adanya kerjasama yang sinergi dengan pemerintah dalam segala problem social, termasuk juga dalam hal pengembangan mahasiswa sebagai asset daerah.

Dengan asset tersebut pemerintah mestinya lebih peka dan lebih aktif memberikan stimulan bagi mahasiswanya untuk mau berkiprah dan membuat terobosan baru dalam membangun daerah baik dalam bentk regulasi atau hanya sekedar kompensasi yang bernilai keadilan sehingga tercipta hubungan mutual cooperative.

Kontribusi: Amri (Wakil Ketua Umum IPMALAY 07-09)

Sadarku, momentum bangsa Indonesia melintasi simpul-simpul sejarah penting tahun ini. Peristiwa itu adalah 100 tahun Kebangkitan Nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, dan 10 tahun Reformasi, serta 63 tahun Proklamasi Kemerdekaan.

Sebagai pewaris sejarah bangsa, jadikan momentum 100 tahun kebangkitan nasional sebagai mata rantai yang tidak terpisah dari tonggak-tonggak sejarah bangsa untuk menjawab tantangan masa kini dan masa depan; tidak hanya bagi generasi senja, tapi juga generasi muda pemilik sah masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Untuk menjadi bangsa adil-makmur yang dapat menegakkan kepala di tengah pergaulan bangsa-bangsa sebagai kepastian masa depan, kita harus membangun kembali jiwa bangsa: menegakkan kembali martabat sebagai bangsa, menggelorakan kembali harapan di tengah frustrasi sosial yang mendalam, menemukan jalan bagi masa depan di tengah meluasnya romantisme untuk kembali ke masa lalu dan serbuan pragmatisme jangka pendek, dan meneguhkan kembali kegotong-royongan di tengah mekarnya individualisme, konsumerisme dan memudarnya nilai-nilai voluntarisme.

Jika dulu kita memiliki musuh bersama bernama penjajahan maka kini kita memiliki musuh bersama bernama kemiskinan, pengangguaran, hutang, korupsi, lemahnya penegakan hokum, lemahnya perekonomian dan rentannya keadaan politik dan keamanan. Dulu dengan kekuatan yang kita miliki kita terbukti dapat mengusir penjajah dari tanah air. Sekarang, keyakinan itu harus dibangkitkan kembali bahwa dengan sumber daya yang tersedia dan upaya yang nyata, serius, sungguh-sungguh dan konsisten melalui kerja keras kita mampu melawan dan menyelesaikan persoalan yang membelit bangsa kita ini. Semangat dan jiwa kebangsaan yang ditanamkan melalui Kebangkitan Nasional harus dijadikan momentum untuk melakukan penataan-penataan diberbagai bidang seraya terus meningkatkan komitmen dari seluruh bangsa dan rakyar Indonesia untuk mewujudkan Indonesia yang damai, adil dan sejahtera.




Workshop Libur!!!

Maaf... Untuk minggu ini workshop ditiadakan...

Tapi pengajian tetap dilaksanakan... Alhamdulillah...

Semoga juga Workshop tetap dilanjutkan secara pribadi oleh setiap kita di rumah masing-masing dengan tema yang bisa turut mencerdaskan kehidupan Bangsa tentunya...

Agung

My Slide Show!

Taqlid

Definisi

Secara bahasa taqlid berarti menggantungkan sesuatu pada sesuatu yang lain, memiliki akar kata, qallada - yuqallidu - taqliydan. Secara istilah ilmu fiqh taqlid berarti mengerjakan suatu aktifitas (amal) dengan bersandarkan kepada fatwa seorang mujtahid (baca: pribadi yang telah memiliki kemampuan untuk menyimpulkan hukum dari sumber aslinya)

Dalil dibolehkannya Taqlid
I. Dalil aqli

Hukum-hukum Allah swt baik yang harus dikerjakan atau yang harus ditinggalkan bersumber kepada al-Quran dan Hadis. Ada dua problem (kesulitan) untuk dapat melakukan penyimpulan hukum dari dua sumber tersebut. Pertama, memastikan bahwa dalil yang akan kita gunakan memang betul-betul dari Allah swt (ayat al-Quran) atau betul merupakan hadis Nabi atau para Imam as. Kedua, memastikan salah satu dari kemungkinan makna yang dimaksud oleh ayat atau hadis diantara beberapa kemungkinan yang ada.

Berkenaan dengan yang pertama walaupun kita tidak perlu ragu lagi dengan keabsahan al-Quran dan merupakan kesepakatan seluruh kaum muslimin baik Sunnah maupun Syiah. Bahwa al-Quran yang ada di tengah kaum muslimin yang diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas tanpa adanya penambahan sedikitpun. Hal ini merupakan konsekuensi dari kebenaran firman Allah swt di dalam Surat al-Hijr ayat 9. Namun tidak ada jaminan berkenaan keabsahan semua hadis yang dinisbatkan kepada Nabi atau para Imam, bahkan yang ada sebaliknya, yaitu pemberitahuan Rasul saww, bahwa akan banyak para pemalsu hadis sepeninggal beliau.

Adapun yang kedua, maka tidak ada beda antara yang al-Quran dan Hadis, karena keduanya memiliki yang muhkam dan mutasyabah, satu ayat atau hadis memperjelas makna ayat / hadis yang lainnya, mengkhususkan, mengeneralkan dan lain sebagainya.

Untuk dapat mengatasi dua problema di atas maka diperlukan ilmu-ilmu alat yang harus dikuasai (tidak hanya sekedar dipelajari) diantaranya:

" Bahasa arab dan tata bahasanya (nahwu dan sharf)
" Ilmu Logika (Mantiq)
" Ilmu sastra Arab (Balaghah, Ma'aniy, Badiy' dan Bayaan)
" Tafsir dan Ulumul Quran
" Fikih baik diantara ulama Syiah dan Ahlussunnah sebagai perbandingan
" Ushul Fiqh
" Hadis dan hal-hal yang berhubungan dengannya (Mushtahlahul hadis, Rijaal dan Diraayah)

Syahid Muthahhari menyebutkan bahwa minimalnya ada 13 cabang ilmu yang harus dikuasai oleh seorang mujtahid, bahkan ada sebagian ulama yang memasukkan filsafat sebagai salah satu cabang ilmu yang harus dikuasai.

Memperhatikan hal di atas maka setiap orang yang akan mengamalkan segala aktifitas fikih (kewajiban dan larangan Allah swt) dengan hasil ijtihad, harus menunggu dulu sampai menguasai ilmu-ilmu di atas yang memakan waktu kurang lebih 15- 20 tahun, sementara Allah swt telah menuntut kita semua untuk mengamalkan perintah atau larangan-Nya di saat kita sudah mencapai usia taklif (9 - 15 tahun)

Dalil aqli yang lain adalah konsekuensi yang tidak mungkin diterima, jika Allah menuntut semua mukallaf untuk menjadi mujtahid, karena semua orang akan belajar untuk menguasai semua ilmu di atas dan akan terhentilah semua roda kehidupan.

Sirah 'Uqalaa', artinya kebiasaan para orang yang berakal sehat untuk menyerahkan segala sesuatu kepada ahlinya. Oleh karena itu kita tidak pernah menuntut semua orang untuk menjadi dokter sehingga dapat menyembuhkan dirinya ketika sakit, atau menuntut semua orang untuk menjadi insinyur bangunan sehingga harus membangun sendiri rumah yang akan dia tempati. Namun setiap orang akan datang ke dokter jika sakit untuk diobati, akan datang ke insinyur bangunan untuk membuat sketsa rumahnya, akan meminta bantuan tukang bangunan untuk membangun rumahnya, dan begitu seterusnya, termasuk akan merujuk kepada ulama yang memenuhi syarat (mujtahid) untuk menyelesaikan problem keagamaan yang dihadapinya.

II. Dalil Naqli (Al Quran dan Hadis)

" Firman Allah SWT dalam Surah an-Nahl ayat 43


Artinya: "Dan tanyakanlah kepada ahli dzikir jika kalian tidak tahu"

" Firman Allah SWT dalam surah Attaubah 122

Artinya: "Sekiranya tidak pergi dari setiap kelompok (golongan) dari mereka (berperang) namun memperdalam ilmu agama sehingga mereka dapat memberi peringatan kepada kaumnya ketika mereka kembali kepadanya, barangkali kaumnya itu dapat menjaga diri (dengan mendengarkan dan mengikuti apa yang mereka sampaikan)".

" Hadis dari Imam Mahdi af.

Artinya: "Jika ada diantara para faqih (pakar ilmu fikih) yang menjaga dirinya dan agamanya, melawan keinginan hawa nafsunya, taat dan patuh pada perintah Tuannya (Tuhannya) maka orang-orang awam hendaklah bertaqlid padanya".

Syarat-syarat seorang mujtahid yang boleh diikuti (marja' taqlid):

" Laki-laki.
" Baligh.
" Berakal sehat.
" Pengikut madzhab Syiah Imamiyah.
" Anak halal.
" Tidak rakus terhadap dunia.
" A'lam (lebih pandai) dari yang lain.
" Hidup bagi pemula, adapun bagi yang akan meneruskan setelah sang mujtahid meninggal, diperbolehkan dengan izin mujtahid yang hidup.
" Adil, yaitu memiliki suatu karakter yang mendarah daging sehingga dia dengan mudah meninggalkan yang haram dan melaksanakan yang wajib.
Taqlid hanya diperbolehkan pada masalah yang berkenaan dengan cabang agama (furu'ud din) yang masih diperselisihkan. Oleh karena itu tidak boleh bertaqlid dalam masalah pokok agama (Ushulud Din) dan hal-hal yang jelas dan disepakati dalam agama (Dharuriyyatud Din) seperti wajibnya sholat, puasa, haji dan lain-lain.

Selain menjadi mujtahid dan muqallid (orang yang bertaqlid) seseorang bisa menjadi muhtath, artinya dia tidak memiliki kemampuan untuk berijtihad, namun dia tidak bertaqlid pada seorang marja' tertentu, akan tetapi dia mampu membanding-bandingkan diantara fatwa para marja' kemudian melaksanaan yang paling selamat dan hati-hati.

Ada empat macam pandangan seorang marja':
Pertama, Fatwa, yaitu suatu keputusan atau ketentuan tentang suatu masalah yang disampaikan oleh seorang marja' secara general dan wajib diikuti oleh para pengikutnya (muqallidnya), seperti:
" Di hari keraguan (hari syak 30 Sya'ban) tidak boleh berpuasa dengan niat puasa Ramadhan.
" Seorang yang murtad wajib dibunuh.

Kedua, Hukum, yaitu ketentuan atau keputusan yang sekaligus menunjuk obyek penerapannya yang dikeluarkan oleh Wali Faqih dan wajib ditaati oleh seluruh mukallaf, baik taqlid padanya atau tidak, seperti:
" Hari ini adalah awal Ramadhan, wajib puasa.
" Salman Rusdy di murtad wajib dibunuh.

Ketiga, Ahwath Wajib (Ihtiyath wajib), artinya suatu masalah dimana seorang marja' tidak memberikan kepastian fatwa dengan haram atau wajib, atau …, namun dia bersikap hati-hati dengan mengatakan misalnya ihtiyath wajib meninggalkannya atau ihtiyath wajib membacanya tiga kali, maka si muqallid yang mengikutinya wajib melakukannya atau pindah kepada fatwa marja' lain yang berada di bawahnya dari segi a'lamiyah yang berbeda pandangan dengannya.

Keempat, Ahwath mustahab (Ihtiyath Istihbabiy), artinya sebuah keputusan yang sebaiknya dilakukan oleh seorang mukallaf.

Seorang mukallaf dapat menentukan,bahwa si A adalah mujtahid yang memenuhi syarat sehingga ia menjadikannya marja' dan bertaqlid padanya dengan beberapa cara berikut:
" Menguji sendiri melihat kehidupan kesehariannya.
" Mendapatkan persaksian dari dua orang adil yang ahli di bidang fikih
" Sudah tersebar di tengah masyarakat sehingga hal itu menimbulkan keyakinan.

Seorang mukallaf dapat mengetahui pandangan marja'nya dengan salah satu cara berikut:
" Merujuk langsung buku atau kitab kumpulan fatwanya (dengan syarat diyakini tidak akan salah)
" Mendengar langsung dari sang marja'
" Mendengar dari orang yang dapat dipercaya (tsiqah)

Seorang mukallaf yang berpindah taqlid dari Sunni ke Syiah ataupun dari seorang marja' ke marja' lain jika terdapat perbedaan antara fatwa yang dulu dengan yang sekarang, maka seluruh amal yang dia lakukan pada saat itu seseuai dengan fatwa marja' yang diikutinya dihukumi sah, untuk selanjutnya dia harus menyesuaikan dengan marja' yang diikutinya sekarang.

Jika seorang mukallaf melakukan ibadahnya tanpa taqlid, maka sekarang harus disesuaikan dengan marja' taqlid yang diikutinya saat ini atau marja' taqlid yang harus dia ikuti saat itu, jika sesuai maka dihukumi sah, jika tidak maka dia wajib mengulangi (qhadho').

Tuesday, August 09 2005 @ 02:12 PM WIT

Kontributor: HPI

Oleh: Abdullah Beik

MEMBANGUN OPTIMISME TENTANG LOKALITAS

Gagasan otonomi daerah dalam beberapa hal masih memiliki banyak kelemahan. Terutama dalam hal implementasi kebijakan yang telah sampai pada level teknis strategis maupun yang masih berupa gagasan konseptual. Pada tahapan gagasan, lewat beberapa pembahasan dalam kajian akademis, masih banyak distorsi yang muncul antara akar yang akan dijadikan focus pembahasan, dengan realita yang berkembang di lapangan. Pola hubungan kelembagaan maupun pola hubungan antar elemen dalam masyarakat yang terjadi dalam sebuah masyarakat adalah salah satu contoh permasalahan yang paling mungkin terjadi. Dalam pelaksanaannya, ternyata kebijakan yang disusun belum sepenuhnya mengakomodasikan pola hubungan yang ada. Sebagai akibatnya, gagasan besar otonomi daerah tersebut disalahartikan dan dimanfaatkan untuk kepentingan golongan. Lebih parah lagi adalah kepentingan individu.
Aspek-aspek lokal, seperti struktur social dengan berbagai unsur penyusunnya seperti tata nilai yang diakui dalam mayarakat, pola hubungan dan pola manajemen yang digunakan dalam masyarakat, dan banyak hal yang lain, yang antara satu masyarakat dan masyarakat yang lain sangat berlainan. Apalagi dengan sebuah fakta nyata bahwa ibu pertiwi ini telah mengandungnya dari awal mula sejarah bangsa ini tertulis.
Heterogenitas yang dimiliki Indonesia, sebenarnya adalah sebuah potensi yang luar biasa. Sebagaimana slogan dan jargon yang dimunculkan dari awal semacam gagasan Bhineka Tunggal Ika, pernyataan bersama pemuda 76 tahun yang lalu, dan berbagai propaganda yang baru, adalah wujud dari upaya untuk tetap mempertahankan komitmen moral seperti kesatuan dan kebersamaan yang telah menjadi pelita bagi kegelapan penjajahan yang dulu dirasakan. Dengan bukti teraihnya kemerdekaan dengan komitmen tersebut, adalah wujud keampuhan potensi yang sebenarnya ambigu. Ambiguitas ini muncul karena ternyata potensi tersebut juga telah menjadi pemicu konflik-konflik baik dalam tingkat lokal maupun nasional, sebuah warna kelabu yang menghiasi lukisan perjalanan bangsa ini.
Dengan beragam potensi cultural dan konflik yang melekat dalam kejiwaan bangsa ini, gagasan otonomi daerah yang lebih menekankan pada aspek lokal, ternyata membentuk aksioma yang tidak terlalu baru dalam tata nilai masyarakat kita. Bakat lama yang terpendam dalam masyarakat Indonesia ditakutkan akan muncul sebagai biang permasalahan baru. Sebagai sebuah terobosan yang dianggap cukup strategis, otonomi daerah diasumsikan mampu menata proporsi konflik lama sehingga kita benar-benar siap dengan tantangan dan permasalahan baru. Dan keterjebakan pada sejarah yang telah terjadi mau tidak mau menjadi batu pengganjal bagi langkah sebuah generasi. Bagaimana semestinya kita memandang realitas ini ?
Aksioma dan beragam kekhawatiran tentang dominasi aspek lokal bukan sebagai kekuatan pembangun tapi justru menjadi pemicu konflik tersebut telah mempengaruhi nilai yang dianut dalam masyarakat. Dan tidak akan memakan banyak waktu untuk sampai pada perilaku yang akan timbul dalam masyarakat. Beragam keputusan besar lain yang terimbas dari kebijakan otonomi daerah semacam kebijakan di sector ekonomi lokal, mau tidak mau akan sangat dipengaruhi perilaku yang terjadi pada sebuah masyarakat. Banyak keputusan lain yang juga akan terimbas.
Menyikapi berbagai kekhawatiran tersebut, lokalitas sebenarnya menyimpan sebuah sinergi yang jika terakumulasi akan menjadi sebuah kekuatan besar bagi masing-masing entitas mulai dari level daerah yang pada tahap lanjut akan menjadi pembangun konstruksi potensi nasional. Sebuah contoh sederhana pada penggunaan bahasa daerah dalam sebuah iklan susu yang sering ditayangkan di televisi, adalah contoh pemanfaatan unsur budaya, wujud keterlibatan aspek lokal dalam kepentingan bisnis yang lebih luas batasannya. Ternyata dengan melibatkan aspek lokal dalam kebijakan bisnis yang tidak terikat batas-batas teritorial, iklan tersebut cukup efektif baik dalam kaitanya dengan orientasi bisnis maupun orientasi kontrol social budaya. Aspek lokal yang identik dengan “pembatasan” dalam praktiknya sering menjadi permasalahan ketika pembatasan tersebut diarahkan lebih kepada pembentukan eksklusifisme dan elitisme meskipun baru pada level gagasan saja. Tanpa adanya upaya untuk “mendialogkan” lokalitas tersebut, harapan terwujudnya sinergi beragam unsur yang bersifat lokal meskipun hanya berupa gagasan akan menjadi keterlanjuran sejarah yang baru bagi generasi-generasi sesudah generasi yang ada sekarang.
Selanjutnya, peran kesadaran kritis untuk berdialog dalam kerangka mewujudkan sinergi dari keanekaragaman yang ada, akan menentukan proses yang akan dilalui oleh bangsa ini di kemudian hari. Namun, keterjebakan kesadaran kritis yang ada sekarang, dalam artian kesadaran lokal, juga tidak menjanjikan perubahan apa-apa. Dalam levelnya, kesadaran semestinya tidak terbatas hanya pada hal-hal yang bersifat lokal.

Preposisi Rapat Kerja IKPM-SUMUT
Kaliurang, 14-15 Juli 2006


Tujuan penyampaian Program Kerja, sebagai berikut:
· Menjabarkan Program Kerja umum menjadi Program Kerja bulanan
· Merencanakan kegiatan Program Pusat selama periode kepengurusan sementara (6 bulan)
· Adanya perencanaan yang terarah dalam pelaksananan kegiatan
· Adanya mekanisme kerja yang tertata baik di tingkat pengurus inti, tiap divisi dan tiap komisariat

Prinsip Kerja Raker dan Pelaksanaan Program:
· Merancang rincian dan langkah-langkah pelaksanaan program kerja IKPM SUMUT yang telah disetujui untuk dilaksanakan.
· Menyusun detail anggaran biaya untuk kegiatan/program kerja IKPM SUMUT yang telah disetujui untuk dilaksanakan.
· Melaksanakan program kerja yang telah disetujui dibawah pengawasan dan pembinaan langsung oleh masing-masing Koordinator Divisi.
· Bekerja sama secara aktif dan inisiatif dengan koordinator, panitia pendukung, dan seluruh komponen organisasi dalam pelaksanaan program yang telah disetujui untuk dilaksanakan.
· Bertanggungjawab langsung dan berkoordinasi dengan koordinator terhadap proses pelaksanaan dan keberhasilan kegiatan.
· Bekerja sesuai dengan kapasitas yang diberikan sebagai pengurus dengan menjaga kekompakan team IKPM SUMUT dan saling hormat menghormati.
· Memberikan saran dan rekomendasi untuk perbaikan pelaksanaan program kerja.

Pokok-Pokok Program
Peningkatan Kerjasama Kemitraan.
Program utama tersebut dijabarkan ke dalam jangka panjang dan pendek dengan sejumlah Rencana Kegiatan sebagai berikut:
Maksimalisasi kinerja IKPM-SUMUT
· Evaluasi kegiatan IKPM-SUMUT pusat.
· Pembentukan IKPM-SUMUT komisariat kampus.
· Peningkatan kegiatan organisasi IKPM-SUMUT pusat.
· Revitalisasi kegiatan IKPM-SUMUT pusat.
· Investasi anggota.
· Penerimaan anggota baru.
· Pembentukan kartu anggota baru.
Peningkatan Pembinaan Anggota
· Penyelenggaraan diskusi & seminar singkat.
· Penyelenggaraan kursus-kursus singkat.
· Pertemuan silaturahmi antar pengurus dan anggota.
Peningkatan Kerjasama Kemitraan
· Peningkatan kerjasama dengan instansi pemerintah.
· Peningkatan kerjasama dengan perguruan tinggi.
· Peningkatan kerjasama dengan lembaga-lembaga penelitian.
· Peningkatan kerjasama dengan organisasi profesi sejenis.
· Peningkatan kerjasama dengan perusahaan swasta (konsultan, kontraktor dan industri).
· Peningkatan kerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Fokus: Konsolidasi dan Pengembangan Organisasi
1. Konsolidasi Spirit
· Meningkatkan kesadaran tentang nilai-nilai fundamental dan operasional organisasi dan semangat kerelawanan sebagai proses pemberdayaan kaum muda.
· Menginternalisasikan visi, misi dan nilai-nilai organisasi dalam program-program yang dikembangkan dan perilaku individu (anggota dan kader).
· Meningkatkan militansi kader dan anggota dalam pengabdian kepada masyarakat dan untuk memajukan dan menjaga keberlangsungan hidup organisasi.
2. Pengembangan Kapasitas Organisasi
a. Sektor Kelembagaan
· Meningkatkan sarang dan prasarana organisasi yang memadai untuk mendukung perjuangan.
· Memantapkan peran dan fungsi dari kelengkapan/organ-organ kelembagaan.
· Menata diri sebagai organisasi masyarakat yang professional dan berkarakter sebagai proses pemberdayaan kaum muda dengan sistem manajemen dan sistem akuntansi yang sehat.
· Tersedianya perangkat organisasi yang efektif.
b. Sektor Keanggotaan dan Kaderisasi
· Memperbesar jumlah keanggotaan yang berkualitas dan handal.
· Rekruitmen anggota yang sesuai dengan sistem administrasi yang ditentukan oleh Induk Organisasi dengan mempertimbangkan pengarus utamaan jender dan pluralitas keanggotaan.
· Berkomitmen untuk melaksanakan dan mengembangkan sistem kaderisasi dalam menjamin kesianmbungan visi-misi dan arah perjuangan organisasi.
· Mengembangkan sistem informasi dan dokumentasi kader dan anggota yang konfrehensif dan terpadu.
· Memberdayakan kader secara efektif dalam program-program organisasi.
· Meningkatkan keterampilan kader dan anggota sebagai proses pemberdayaan kaum muda yang professional secara berkesinambungan. Dalam proses ini organisasi memberikan kesempatan yang adil kepada setiap kader.
c. Sektor Fund Rising
· Meningkatkan kesadaran dan kesediaan anggota untuk memenuhi kewajiban membayar iuran.
· Mengedepankan dan meningkatkan akuntabilitas pengelolaan dana organisasi.
· Mengupayakan berbagai sumber-sumber pendanaan organisasi yang merujuk-sesuai dengan aturan organisasi dan tidak bertentangan dengan Undang-Undang yang berlaku di Indonesia dengan didasari prinsip kemandirian dan kreatifitas.


PROGRAM KERJA DIVISI

Divisi Organisasi (Pengkaderan, Kesekretariatan dan Informasi)
· Bekerjasama dengan semua Koordinator Wilayah dalam upaya pendataan anggota;
· Meningkatkan koordinasi dengan seluruh Koordinator Wilayah;
· Pengembangan Manajemen Organisasi. Pengembangan manajemen dimaksudkan agar kegiatan-kegiatan bisa dilaksanakan dengan efisien dan efektif. Kegiatan yang dicakup program ini adalah:
· Pengembangan mekanisme kerja yang partisipatif dan sesuai dengan tuntutan kebutuhan dan keadaan;
· Melengkapi sarana kerja;
· Pengembangan kemandirian organisasi;
· Pengembangan kemampuan seluruh anggota kepengurusan.
· Memberikan layanan informasi IKPM SUMUT melalui internet dan homepage IKPM SUMUT.

Divisi Minat & Bakat
· Penggalangan dana untuk kegiatan internal divisi;
· Merangsang minat dan bakat seluruh anggota ke arah kegiatan-kegiatan yang positif dan kreatif meliputi kegiatan seni dan olahraga;
· Pembentukan tim-tim kerja untuk bidang seni dan olahraga meliputi: musik, tari, sepakbola, voli dan olahraga lain;
· Penjadwalan latihan rutin;
· Pelaksanaan event tertentu seni dan olahraga.

Divisi Kerohanian
· Pelaksanaan program rutin keagamaan;
· Pelaksanaan program perayaan hari besar agama;
· Menjaga kerukunan kehidupan beragama antar anggota;
· Penggalangan dana untuk kegiatan internal divisi.

Divisi Sosial dan Kemasyarakatan
· Pelaksanaan program rutin sosial kemasyarakatan;
· Pelaksanaan program sosial kemasyarakatan yang incidental;
· Menjaga kerukunan kehidupan sosial antar anggota;
· Penggalangan dana untuk kegiatan internal divisi.

Divisi Dana Usaha
· Bekerja sama dengan seluruh Koordinator Wilayah/Kampus untuk pengumpulan iuran anggota;
· Mengupayakan alternatif pendanaan IKPM SUMUT melalui kerjasama dengan berbagai pihak;
· Mengadakan kegiatan-kegiatan organisasi yang bersifat profit oriented;
· Memberikan informasi tentang keuangan dan investasi barang IKPM SUMUT dalam periode tertentu.

Divisi Pers & Publikasi
· Pembuatan Jurnal atau Buletin rutin;
· Mengadakan seminar tahunan IKPM SUMUT;
· Membuat dan mengumpulkan makalah untuk Jurnal atau Buletin rutin;
· Melakukan komunikasi dengan instansi-instansi pemerintahan di Sumatera Utara dan Pemerintah DIY;
· Melakukan interaksi aktif dengan semua Koordinator Wilayah/Kampus dan komunikasi dengan Keluarga Besar IKPM SUMUT;
· Melakukan komunikasi dengan alumni;
· Memberikan layanan informasi ilmiah kepada instansi-instansi pemerintahan di Sumatera Utara dan Pemerintah DIY dengan penyebaran proceeding dan Buletin rutin.
· Penggalangan dana untuk kegiatan internal divisi;

Penutup
Adapun pelaksanaan program dan kegiatan akan dilakukan sesuai dengan perkembangan waktu dan kondisi yang ada. Karena itu, setiap tahun akan dilakukan penetapan prioritas program. Prioritas program disusun berdasarkan kriteria-kriteria tertentu dan mempunyai magnitude besar (berdampak luas, baik jumlah konstituen yang terlibat ataupun ekspektasi keuntungannya, baik yang bersifat langsung ataupun tidak langsung), meliputi:
· Urgensinya: melihat bahwa program memang perlu dilaksanakan secepatnya
· Related: melihat bahwa program tersebut sesuai dengan tujuan dan misi IKPM-Sumut
· Important: melihat bahwa program-program tersebut memang penting dan dibutuhkan IKPM dan masyarakat
· Effisiensi: diharapkan dapat menghasilkan output yang cukup signifikan dibanding dengan input yang digunakan
· Effektif: diharapkan program, kegiatan dan, rencana tindak cukup berhasil untuk menghasilkan output tertentu

Perlu disampaikan bahwa sifat kegiatan dalam setiap program telah disusun sedemikian hingga, sesuai dengan realitas di lapangan dan kebutuhan yang ada. Hanya saja karena sifatnya perencanaan, maka hal-hal yang berhubungan dengan teknis kegiatan dimaksud, adakalanya belum dapat disampaikan secara detail, khususnya berkenaan dengan kegiatan tahun ke 3 dan seterusnya. Hal ini dapat dipahami, bahwa konsepsi demikian bertujuan agar realisasi perencanaan dapat berkembang menurut kondisi di lapangan dan tuntutan perkembangan tanpa harus merubah landasan dan maksud kegiatan tersebut dilaksanakan.
Desain program dan kegiatan ini merupakan sebuah rangkaian yang saling mendukung dan terkait, karena itu pemaknaan setiap bagian tidak dapat dilakukan dan berdiri sendiri. Demikian pula keberhasilan pelaksanaan program dan kegiatannya, merupakan instrumen yang komplit, yang harus berjalan secara harmonis. Oleh sebab itu koordinasi dalam setiap pelaksanaannya menjadi sangat penting yang perlu perhatian khusus. Pemahaman tentang kaitan masing-masing program dan kegiatan yang mengikutinya, diharapkan dapat mempertegas pelaksanaan pemberdayaan pengurus berada di landasan garis strategis yang direncanakan.

SOEMPAH PEMOEDA

POETOSAN CONGRES
PEMOEDA-PEMOEDA INDONESIA
TAHOEN 1928


Kerapatan pemoeda-pemoeda Indonesia jang diadakan oleh perkoempoelan pemoeda-pemoeda Indonesia jang berdasarkan kebangsaan, dengan namanja Jong Java, Jong Soematra (Pemoeda Soematra), Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Islamieten Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi dan Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indoesian ;

Memboeka rapat pada tanggal 27 dan 28 October tahoen 1928 di negeri Djakarta; sesoedahnja mendengar pidato-pidato dan pembitjaraan jang diadakan didalam kerapatan tadi; sesoedah menimbang segala isi pidato-pidato dan pembitjaraan ini; kerapatan laloe mengambil kepoetoesan :

Pertama :
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.

Kedoea :
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATU, BANGSA INDONESIA.

Ketiga :
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENJOENJOENG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA.

Setelah mendengar poetoesan ini kerapatan mengeloerkan kejakinan asas ini wadjib dipakai oleh segala perkoempoelan-perkoempoelan kebangsaan Indonesia;

Mengeloerkan kejakinan persatoean Indonesia diperkoeat dengan memperhatikan persatoeannya :

Kemaoean

Sedjarah

Hoekoem - adat

Pendidikan dan Kepandoean

dan mengeloerkan pengharapan soepaja poetoesan ini disiarkan dalam segala soerat kabar dan dibatjakan dimoeka rapat perkoempoelan-perkoempoelan kita.

Disadur dari Sekretariat Negara Republik Indonesia
Tanggal 27 Oktober Tahun 2003

Materi termuat Buletin IPMALAY 05
Kalau nanti kamu menyandang status mahasiswa, ada segudang pilihan kegiatan yang bakal bisa kamu lakukan. tidak hanya sekedar rajin kuliah, membaca diktat dan lulus cepat.
HMJ
Ini adalah organisasi yang menampung aspirasi mahasiswa di tingkat jurusan. Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) lebih memfokuskan kegiatannya pada hal-hal yang berhubungan langsung dengan lingkup keilmuan jurusan yang bersangkutan. Kegitan-keguatan yang diselenggarakan HMJ selalu diwarnai dengan semangat kekeluargaan, biar lebih dekat, lebih kenal, dan lebih sayang. Tak heran kegiatan populer yang biasa dilakukan adalah malam keakraban untuk mahasiswa baru.

OSPEK
Rambut gundul, baju kusut, atribut aneh, hukuman tak masuk akal merupakan ciri khas OSPEK (apapun namanya kini). Ritual ini selalu memicu pro kontra. Ada yang menyebutnya sebagai pembodohan bahkan ajang balas dendam para senior. Tak heran konsep selalu direvisi.
Tahunlalu penyelenggaraan tidak seserem yang dibayangkan. Beberapa fakultas manyelenggarakan OSPEK dengan sisi baru, yang benar-benar mengenalkan mahasiswa dengan kehidupan kampus.
GAMA FAIR
Untuk memperingati ultah UGM, beberapa tahun lalu pernah diadakan Gadjah Mada Fair (GAMA FAIR). Diselenggarakan pertama kali pada tahun 1986 dan terakhir kali diadakan tahun 1997. acaranya mulai dari bazar, lomba dan pertunjukkan. Pesertanya mulai dari perusahaan multinasional sampai pedagang kaki lima. Masyarakat jogja pun tumplek-blek di sini. Sayangnya, beberapa tahun belakangan ini vakum. Gimana, terinspirasi untuk melaksanakannya lagi?
Badan OTONOM
Semacam UKM di tingkat fakultas. Kegiatannyapun tak jauh beda misalnya penerbitan fakultas, Mapala dan kerohanian. Lembaga ini disebut Badan Otonom atau BO yang independen karena tidak berada di bawah Senat/BEM atau HMJ. Meskipun begitu, dana masih disubsidi Dekanat. Tiap BO punya markas sendiri yang jadi tempat kumpul, diskusi, mempersiapkan acara, atau sekedar nongkrong sampai malam.
Organisasi Ekstra
Selain HMJ, UKM maupun Badan Otonom, ada pula organisasi ekstra kampus. Rata-rata organisasi ini dibentuk karena kesamaan ideologi atau pearasaan tidak puas pada lembaga formal yang ada.
Jadi kegiatannya lebih kepada pengkajian wacana umum dan penyadaran masyarakat. Organisasi ekstra kampus yang ada di UGM misalnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Liga Nahasiswa Nasioal Untuk Demokrasi (LMND). Serikat Mahasiswa Merdeka (SMM), dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).
KM
Inilah satu-satunya lembaga tingkat universitas yang diakui rektorat, yah semacam OSIS lah. Bedanya, kita nggak perlu minta tanda tangan ketua Keluarga Mahasiswa (KM) Ugm bila ingin menyelenggarakan kegiatan dan tentu sajatidak memakai badge KM.
Lembaga ini sering mendapat kritikan. Mulai tidak adanya manfaat keberadaan KM bagi mahasiswa sampai pemihakan KM pada pergulatan politik negara. Suksesi pengurus KM dilakukan tiap tahun lewat PEMIRA.
PEMIRA
Ritual tiap tahun ini diadakan untuk memilih ketua KM. Konon tiap penyelenggaraan bisa menghabiskan 8 juta duit rektorat. Para wakil mahasiswa yang dipilih ini biasanya berasal dari partai-partai kampus. Pemira (Pemilihan Umum Raya) ini seharusnya melibatkan seluruh mahasiswa, tapi pada kenyataannya hanya sebagian kecil mahasiswa ikut memilih.
Nggak apa-apa lah…….itung-itung ngelatih mahasisawa berdemokrasi.

Lembaga Tingkat Fakultas
Inilah KM-nya fakultas. Fungsinya dijabarkan dalam 2 lembaga. BEM sebagai pelaksana program dan Senat sebagai pengawas.
Kebanyakan lembaga kemahasiswaan di Fakultas non-eksakta mempunyai masalah dengan legitimasi (baca:kepedulian) para mahasiswa. Bahkan di FISIPOL dan Hukum sempat dibubarkan. Tapi di fakultas eksakta seperti Teknik dan MIPA, BEM dan Senat cukup populer di mata mahasiswa.
Gelanggang Mahasiswa
Ingin gabung UKM, tapi milih? Jangan khawatir, kamu bisa dapat informasi sekaligus daftar UKM saat Gelanggang Expo (Gelex).
Hajat tahunan Forum Komunikasi UKM-UGM ini berisi demo kegiatan, pentas seni, rekruitmen atau sekedar pameran piala dan inventaris UKM. Gelex biasanya diselenggarakan setelah beberapa minggu Ospek selesai dan berlangsung selama 3 hari. Selama itu, kamu bisa kenalan dengan kawan-kawan dari berbagai UKM, hingga akhirnya kamu bisa memutuskan kemana mau menyalurkan minat, bakat serta kreativitasmu.
Kagama
Setiap alumni Ugm tergabung dalam Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA). Organisasi ini berdiri tahun 1958.
Lulusan UGM tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Jadi, jangan heran di setiap provinsi terdapat pengurus daerah KAGAMA. Suksesi pengurus diadakan lima tahun sekali. Pengurus daerah punya program sendiriyang dilaksanakan di wilayah operasionalnya. Kegiatan dari donor darah, khitanan massal sampai kunjungan ke lembaga-lembaga sosial.
Kelompok Diskusi
Kalau benar-benar mau pintar, kuliah saja tidak cukup. Karena materi, waktu dan kemampuan dosen sangat terbatas. Maka, selain membaca, diskusi menjadi wajib hukumnya.
Beruntunglah karena di Djogja banyak orang atau kelompok yang mau diajak berdiskusi tentang apa saja. Sosial, politik, ekonomi, budaya sampai hal-hal kecil di sekitar kita, jogjalah gudangnya. Itupun kalau benar-benar mau pintar, sich.
Porfigama
Bila UGM berulang tahun, ada kegiatan yang dinantikan mahasiwa di setiap fakultas. Namnya Pordies (Pekan Olahraga Dies Natalis). Mulai tahun 2001, Pordies berganti nama menjadi Porfigama (Pekan Olahraga dan Festifal Seni Gadjah Mada). Tidak hanya olahraga saja yang dipertandingkan, tetapi juga seni dan budaya.
Juara umum ditentukan lewat akumulasi medali yang didapatkan. Sayang, tawuran antar suporter kerap mewarnai acara ini terutama pada cabang olahraga favorit seperti sepakbola, basket dan bola voli.

MAKAN, TIDUR, MUSIK

MAKAN, TIDUR, MUSIK
Materi termuat Buletin IPMALAY 05
Saat ini sekarang kita sedang menjalani transformasi dari masa remaja menjadi orang dewasa. Menjadi manusia seutuhnya yang berwenanf dan bertanggung jawab penuh atas dirinya. Pada masa ini terjadi banyak proses pematangan diri, ada keinginan untuk menjadi unik dan berbeda dengan mengembangkan kemampuan khusus kita. Ada proses identifikasi, mencari tahu pribadi seperti apa yang kita inginkan. Kita mencoba membentuk eksistensi diri.
Manajemen diri sendiri
Ditiap perusahaan kita mengenal “ manajer ” yang mengatur, mengendalikan dan melakukan koordinasi setiap elemen dalam perusahaan tersebut. Diri kita bisa dianalogikan sebagai sebuah perusahaan sekaligus menjadi manajernya. Kita sendiri yang mengendalikan kearah mana dan tujuan hidup kita. Setidaknya proses ini secara riil bermula ketika kita menjadi mahasiswa, meski kemampuan memenej masih terbatas pada hal – hal kecil.
Pengembangan diri sebagai seorang manajer akan lebih nyata bagi mahasiswa yang hidup ditempat kos daripada mereka yang masih tinggal bersama orang tuanya. Bagaimana tidak ? ditempat kos, kita benar – benar mengatur diri sendiri, mulai dari mencari makan, menjaga kkesehatan, mmelindungi diri, menyelesaikan tugas kuliah, membersihkan kamar, mencuci pakaian, bertemen dan berpergian, semuanya menjadi tanggung jawab kita sendiri.
Menjadi anak kos juga akrab dengan masalah-masalah, seperti kiriman dari ortu yang telat datang, berantem dengan temen, dijutekin ibu kos, capek karena harus mencuci dan menstrika sendiri, ongkos bis yang terus naik, harus makan irit tiap akhir bulan, dan setumpuk masalah lainnya.
Masalah manajer bagi diri sendiri berarti manjadi decision maker, membuat keputusan – keputusan penting dengan akibat yang akan kita rasakan sendiri. Hidup adalah sebuah pilihan. Kita berhak untuk memilih menjadi orang yang rapi, peduli terhadap lingkungan atau menjadi orang yang amburadul, cuek dan seenaknya sendiri. Tentu saja perlu diingat konsekuensi dari pilihan – pilihan tersebut. Di tempat kos, tidak akan ada yang peduli apabila kamar kita berantakan, tak akan ada yang peduli kita mau bangun siang. Disinilah kemampuan manajerial kita di uji. Bagaimana kita membuat pilihan yang cerdas yang tidak menyebabkan hidup kita terpuruk.
Pentingnya adaptasi
Mengingat kehidupan sebagai mahasiswa berbeda dengan kehidupan sebelumnya, kemampuan kita untuk beradaptasi adalah hal yang sangat vital. Apalagi untuk mahasiswa yang berasal dari luar jogja. Kota jogja merupakan kota yang unik, yang bisa dikatakan indonesia mini. Mahasiswa UGM banyak yang berasal dari seluruh nusantara. Untuk berinteraksi dengan merek, kita harus paham dengan segala kebiasaan dan kebudayaannya. Kalau kita tidak ada usaha untuk saling menyesuaikan diri, fleksibel, tenggang rasa dan easy going, akan terjadi konflik dengan teman dan lingkungan sekitar hingga kita tidak akan kerasan dengan “ hidup baru” ini.
Masyarakat jogja sendiri mempunyai budaya yang khas, mereka adalah masyarakat yang sopan, berprilaku halus dan kadang sering ‘ewuhpakewuh’( semacam perasaan segan untuk mengatakan yang sebenarnya agar tidak menyakiti orang lain ). Untuk berinteraksi dengan masyarakat, tetangga kita ditempat kos yang memang perlu memahami prinsip apa yang berlaku dalam masyarakat. Tapi yang penting, kita harus memegng prinsip universal seperti sopan santun, tnggang rasa dan menghormati orang yang lebih tau. Jangan lupa untuk menaati peraturan – peraturan kampung.
Makan + tidur + musik
Warung makan
Makanan asli jogja maupun makanan khas daerah lain lebih mudah ditemukan dan relatif murah. Di warteg, dengan harga Rp 1000 rupiah saja, kamu bisa makan nasi sayur dan tempe. Tambah Rp 800 lagi kamu bisa menikmati telur. Selain nasi sayur dan tempe, ada menu pilihan lagi yaitu sego pecel (sgpc). Lotek, burjo ( bubur kacang hijau ) dan sugali ( susu segar boyolali ).
Kalau lapar tengah malam, datang saja ke warung burjo dan indomie. Warung ini buka 24 jam. Atau cari saja angkringan, warung grobak dengan menu spesialnya, sego kucing.
Salon
Meski tampil cantik dan segar bukan hal utama bagi mahasiswa, tidak sedikit mahasiswa yang menyisihkan uangnya buat kesalon untuk facial, manicure, pedicure, dan creambath.
Disekitar kampus tersebar banyak salon yang menyediakan potongan atau harga khusus buat mahasiswa. Selain itu,tersedia pula ruang – ruang khusus untuk cewek berjilbab atau ruang khusus cowok. Sehingga kamu akan merasa lebih nyaman lagi berada disalon.
Hidup di kos
Mmencari kos di jogja gampang – gampang susah. Meski tempat kos bertebar di sekitar kampus, kamu mesti jeli melihat harga dan fasilitas yang disediakan. Harga berkisar Rp 50.000 sampai ratusan ribu. Pembayarannya bisa perbul, pertiga bulan, atau langsung dibayar tahunan.
Sebagai anak kos, kamu harus bisa menyesuaikan diri dengan pemulik kos mmmaupun dengan masyarakat sekitar. Hal ini penting karena kamu akan selalu berinteraksi dengan mereka.
Warnet
Kamu ingin berpetualang di dunia may, cek e-mail, chatting, atau sekedar melihat gambar – gambar menarik, warnetlah tempatnya. Di jogja, warnet tersebar dimana – mana. Boleh di bilang setiap beberapa meter kamu melangkah, pasti bakal menemukan warnet. Harga berkisar Rp 2500/jam dengan fasilitas seadanya sampai dengan Rp 5500/jam lengkap dengan sofa dan Ac.
Rental
Tugas kuliah numpuk, ingin nonton film baru atau install software baru, kamu enggak usah pusing – pusing deh. Di jogja, semua itu bisa di atasi.
Kalau ingin ngetik tugas, datang saja ke rental komputer yang banyak tersedia di sekitar kampus 500 sampai 1000 rupiah per jam. Atau mau nonton film untuk melepaskan diri dari masalah di kampus, rental CD software dan VCD bertebaran di jogja membuat kamu bebas untuk memilih filmapa yang ingin kamu tonton.
Laundry
Kamu nggak suka nyuci pakaian sendiri? Jangan bingung! Disekitar tempat kos ada banyak usaha laundry tau pencucian

Kekerasan akademik

Kekerasan akademik
Materi termuat Buletin IPMALAY 05
Selama kuliah, pantas kalau masalah–masalah akademik mendapat perhatian besar. Karena sistem belajar di universitas berbeda dengan sistem yang digunakan di SD sampai SMU, nggak heran kalau banyak yang kesulitan beradaptasi.

Perbedaan ini menyebabkan ketidaktahuan sistem akademik dan memancing terjadinya kekerasan sistem akademik. Bisa jadi istilah ini terdengar aneh di benak mahasiswa baru atau adik-adik. Bahkan di kalangan mahasiswa yang sudah lama kuliah pun kekerasan akademik menjadi obrolan yang populer. Padahal para pejuang hak mahasiswa yakin bahwa kekerasan akademik ini sering terjadi di lingkungan kampus.
Mengapa sebenarnya kekerasan akademik bisa terjadi ? tindakan macam apa yang bisa dianggap sebagai kekerasan akademik. Jawaban kedua masalah ini berkaitan dengan kebebasan akademik. Artinya, kebebasan dan kekerasan akademik adalah dua hal yang berkaitan erat. Tidak adanya jaminan atas kebebasan akdemik adalah masalah pokok yang lantas memunculkan kekerasan akademik. Rumit ya ! biar ‘gak bingung kita uraikan saja satu per satu! !

Kebebasan akademik
Apa sih kebebasan akademik itu? Kebebasan akademik dapat diartikan sebagai kebebasan bagi dosen untuk mengajar dan bagi mahasiswa untuk belajar tanpa adanya intervensi dan represi pihak luar (pemerintah, pihak keamanan, masyarakat, dll). Selain itu, juga tidak boleh adanya tekanan institusional dari dalam universitas sendiri.
Lebih khusus lagi, kebebasan akademik bagi dosen berarti kebebasan untuk mengembangkan segala kegiatan yang akan meningkatkan kemampuan intelektual mereka, mempresentasikan penemuan – penemuan mereka dam mempublikasikan hasil riset tanpa sensor, serta mengajar dengan cara–cara yang menurut mereka profesional. Untuk mahasiswa sendiri, elemen dasar bagi kebebasan akademik adalah kebebasan untuk mereguk pengetahuan yang mereka inginkan, menyusun kesimpulan-kesimpulan, serta menyatakan pendapat.
Kebebasan akademik bukan hanya untuk kepentingan kenyamanan bagi para dosen dan mahasiswa saja, melainkan juga demi kepentingan masyarakat luas. Kebutuhan masyarakat akan pengetahuan akan terpenuhi dengan baik jika kegiatan akademik berjalan dengan baik dan sehat. Bila kebebasan akademik tidak dijamin, ilmu bisa dijadikan alat kekuasaan. Misalnya, pelajaran seperti Pancasila dan Kewiraan bisa dijadikan alat menanamkan doktrin. Mahasiswa cuma diajari satu cara pandang saja, tidak boleh ada perbedaan pendapat. Pembatasan pikiran kritis semacam ini bisa juga terjadi pada mata kuliah lain.
Fenomena ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Di negara-negara yang tradisi demokrasinya lemah, ilmu dan sekolah (termasuk Universitas) dianggap sebagai alat propaganda nomor satu. Memang, institusi formal seperti Universitas (apalagi yang dibiayai pemerintah) cenderung punya watak yang setia dan tidak kritis pada kekuasaan. Padahal ilmu seharusnya diabdikan untuk kepentingan seluruh manusia, tidak hanya segelimtir orang saja.

Kekerasan Akademik
Nah, kalau kita sudah tahu definisi kebebasan akadenik, akan lebih mudah bagi kita untuk membahas masalah kekerasan akademik. Secara sederhana, kekerasan akademik bisa diartikan sebagai tindakan yang tidak menghormati kebebasan akademik warga kampus. Kalau di sebuah Universitas tak ada jaminan kebebasan akademik, bisa dipastikan kekerasan akademik akan sering menimpa dosen dan mahasiswanya.
Di kalangan mahasiswa, barangkali kekerasan akademik yang paling populer adalah subyektifitas nilai yang diberikan dosen. Banyak mahasiswa yang mengeluh karena dosen tidak mempunyai ukuran yang jelas untuk menilai pengetahuan mahasiswa. Kadang bahkan ada dosen yang mempunyai “black list”, dan memberi mereka yang terdaftar disana nilai jelek. Padahal masalahnya bisa jadi hanya sepele dan tidak berhubungan dengan kemampuan si mahasiswa. Masalahnya bisa beragam, mulai dari presensi yang bolong-bolong, pakai kaos oblong atau sandal jepit saat kuliah, hingga sering menentang pendapat dosen.tentu ini tidak adil, karena nilai berhubungan dengan pengetahuan, bukan penampilan (itu kata mahasiswa lho..)
Selain itu banyak peraturan yang bisa dijadikan kedok bagi dosen dan pejabat fakultas/universitas untuk merugikan mahasiswa. Ini bisa juga digolongkan sebagai kekerasan akademik. Peraturan tentang dosen pembimbing, misalnya. Kalau dosen pembimbing sulit ditemui, mahasiswa jadi tidak punya kesempatan konsultasi. Ini sudah terhitung kekerasan pertama. Yang kedua, mahasiswa bisa terlambat mengurus registrasi KRS (Kartu Rencana Studi) karena masalah tanda tangan dosen pembimbing – sehingga harus dipotong jatah SKS-nya atau didenda.
Bagi mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi kesulitan menghadap dosen tentu akan menghambat kelulusannya.
Meski jumlahnya jauh lebih besar dari elemen universitas lainnya, mahasiswa seringkali tidak punya pisisi tawar yang cukup kuat dalam masalah-masalah akademik. Kebanyakan mahasiswa menyerah dan memilih diam. Banyak yang berfikir, selembar ijazah dengan sederet nilai tinggi lebih berarti dibandingkan perjuangan heroik untuk iklim demokratis, jaman memang sudah berbada ya? Bagaimana dengan anda-anda nantinya?

Mahasiswa Mau Apa?

Materi termuat Buletin IPMALAY 05
Apa artinya menjadi mahasiswa? Menjadi mahasiswa bukan sekedar menjadi siswa yang “maha”. bukan lagi seperti anak SMU canggung yang tiap hari mengenakan baju yang sama ke sekolah, yang bisa bolos kuliah dan mengatur jam belajarnya sendiri, yang pendapatnya harus dihargai orang tua (karena mahasiswa sudah dewasa dan bukan lagi remaja), yang boleh pulang malam karena jadi aktivis kampus, yang merasa punya hak untuk omong politik serta kritik sana-sini, dst, dst.
Menjadi mahasiswa di Indonesia, sebagaimana di negara miskin lain, adalah sebuah kemewahan. Mewah, karena hanya 2% dari kurang lebih 220 juta rakyat Indonesia yang cukup beruntung bisa menjadi mahasiswa. Mewah, karena menjadi mahasiswa berarti punya akses informasi eksklusif (perpustakaan dan kuliah dengan dosen top lulusan negara maju), akrab dengan perkembangan teknologi impor dari belahan dunia lain, dan berkesempatan menjadi peneliti-manajer-psikolog-dosen-pejabat-insinyur-dokter-pengacara-pengusaha dancalon anggota kelas menengah Indonesia (yang berdasi, bermobil mewah dan menggenggam Handphone)
Dalam historiografi Indonesia abad XX, mahasiswa berada di tempat terhormat. Nama-nama yang tercatat sebagai pendiri bangsa kebanyakan adalah mahasiswa. Mohammad Hatta, Soekarno, Sutan Syahrir, Soetomo, Tan Malaka, Agus Salim, Cipto Mangunkusumo, adalah beberapa yang paling terkenal. “Indonesia” sendiri juga adalah sebuah konsep baru yang dibentuk lewat bahasa, lewat koran-korandan selebaran yang digarap para priyayi sekolahan tadi.
Pada tahun 60-an, ketika harga-harga melambung, hawa politik super panas, dan Presiden Soekarno masih saja menggebu-gebu dengan “revolusi” belum selesainya, lagi-lagi mahasiswa memainkan peranan penting. Demonstrasi yang dipelopori mahasiswa dan didukung militer turut melicinkan jalan seorang jendral yang tak terkenal menuju puncak kekuasaan. Dan selama 32 tahun, sang jendral itu memimpin pembangunan nasional (depolitisasi massa,pemberangusan pers, doktrinasi pelajar birokrasi yang korup dan ekonomi kroni yang kropos). Ketika tahun 1997 rupiah terpuruk, himpitan ekonomi dan akumulasi ketidakpastian politik berubah menjadi ledakan sosial. Dan, sekali lagi, mahasiswa tampil keren dengan menduduki gedung MPR menuntut sang jendral lengser. Jendral yang sam dengan yang dulu yang mereka antar menuju kursi kepresidenan.
Cerita sejarah ini menggoda orang untuk menilai tinggi mahasiswa. Status mahasiswa menjadi simbol kebanggaan, karena mahasiswa bukan orang kebanyakan. Menjadi mahasiswa berarti menjadi anggota sebuah kelas sosial intelek dan cendekia. Tapi benarkah? Untuk menjawab pertanyaan ini, “apa” dan “siapa” mahasiswa itu harus diperbincangkan.
Kata ‘intelektual berasal dari bahasa Latin, interlego atau intellego yang artinya “memisah-uraikan sambil mengendapkan dalam batin”. Menurut arti ini, seorang intelektual harus mampu berpikir mendalam, menghayati sesuatu, Sebuah tugas yang butuh kekayaan batin sekaligus ketajaman berpikir. Proses “memisah-urai dan mengendapkan” ini pada hakekatnya adalah pencarian kebenaran. Dengan demikian, seorang intelktual adalah pencari dam kekasih kebenaran, seperti Socrates, filsuf besar Yunani kuno, yang memilih menenggak racun. “Sekali-kali takkan aku mengubah haluan, walau harus mati berkali-kali,” jawabnya, ketika diberi kesempatan untuk mendapat ampunan pengadilan dengan syarat tak lagi bertanya dan berspekulasi. Ia membela kebebasannya sebagai seorang intelektual.
Jelas, tidak semua sarjana memiliki gairah yang menggelora akan ilmu (kebenaran) sekaligus memiliki imunitas terhadap godaan dan ancaman kekuasaan. Dengan demikian setiap mahasiswa bakal menjadi intelektual. Dari kacamata lain, mahasiswa jatuh dari sosok patriot universitas peembela rakyat dan kebenaran (seperti dalam bayangan Soe Hok Gie) dengan panji-panji “kepeloporan intelektualnya”. Kehidupan universitas , yang sering dianggap sarang kaum intelektual, seringkali tidak semegah gaungnya. Tak terkecuali universitas-universitas negri yang ada di Indonesia sekarang ini. Bersiaplah tertawa pahit melihat potret buram dunia mahasiswa kita: mahasiswa yang segan berdiskusi, yang bacaannya sebatas diktat dan catatan kuliah, yang mencontek waktu ujian demi sebuah angkayang disebut indeks prestasi, yang gugup bila diminta menulis majalah, yang gagap dalam menerapkan ilmunya, yang gairah utamanya bukan mencari pemahaman melainkan menjadi sarjana secepat-cepatnya.
Maka wajar saja kalau Gunawan Moehamad, budayawan dan pendiri majalah Tempo, tak antusias berbicara tentang kepeloporan intelektual, apalagi kepeloporan mahasiswa. Bukankah yang menjadi arsitek kepemimpinan orde baru, yang bertanggungjawab atas keilmiahan konsep ekonomi pertumbuhanyang rapuh, dulunya juga mahasiswa? Juga para pejabat korup yang mencuri uang pajak, eksekutif bank-bank berkredit macetyang menilep tabungan masyarakat, sejarawan dan ilmuwan penulis buku-buku sejarah, PSPB dan PMP yang membodohkan, serta akuntan dan pengacara lihai menutupi jejak kejahatan kerah putih? Atau bahkan Bapak-Ibu guru kita yang ngertinya hanya mendiktekan materi dan memberi tugas saja, panutan kita yang kadang mencuri waktu mengajarnya untuk merokok dan ngerumpi dengan rekan sejawatnya di kantor, dulu juga adalah mahasiswa. Tapi itu dulu lho!
Sekarang dapatlah kiranya kawan-kawan atau adik-adik untuk berefleksi sejenak, renungkanlah dari hatimu yang paling dalam, bacalah dari banyak referensi yang dapat dipertanggungjawabkan, bila perlu tanyakanlah pada orang-orang yang masih engkau percaya, orangtuamu, gurumu, teman-temanmu, atau siapapun yang kiranya dapat membantumu mencari jawaban ini; Untuk apakah sebenarnya kamu mencari ilmu. Untuk apa kamu setiap hari bangun pagi, mandi, gosok gigi, berangkat sekolah , mendengar, menulis dan menghafal. Untuk apa pula bercita-cita masuk ke PTN pavorit, UI, ITB, UGM, USU, dll. Siapkah kalian untuk memasuki dunia kampus yang penuh tantangan dan jebakan ini. Sudah siapkah kalian untuk jadi mahasiswa yang sebenar-benarnya mahasiswa, mahasiswa yang siap menjadi ilmuwan dan intelektual sejati, mahasiswa yang tidak ingin menjadi seperti orangtua-orangtua kita di atas.
Semoga kalian dapat memastikan jawabannya!

Materi termuat Buletin IPMALAY 05
Akhir-akhir ini kita banyak meelihat di media, baik cetak maupun elektronik semakin berkembangnya tindakan-tindakan yang tidak bermoral dan tidak beradab dari kalangan anak, remaja, orang tua, sampai kakek-kakek. Merebaknya VCD porno yang kemudian banyak menimbulkan perkosaan. Menjangkitnya Miras dan Narkoba yang banyak mengakibatkan kebrutalan, pembunuhan, perampokan, perkosaan, dan tindakan-tindakan lainnya yang sudah tidak disadari oleh pertimbangan pemikiran yang jernih dan hati nurani. Mulai memudarnya rasa hormat anak (generasi muda) terhadap orang tua, kehilangan rasa kasih sayang terhadap teman sebayanya, kehilangan sikap untuk saling menasehati, saling mengingatkan, dan sikap “saling” yang lain agar masing-masing kita menemukan jalan yang terbaik untuk membentuk sebuah bentuk sistem pergaulan yang penuh kesejukan, keakraban, persaudaraan, penuh nuansa untuk maju, mencapai bentuk masyarakat yang ideal.
Fenomena-fenomena penyimpangan prilaku tersebut mencerminkan belum tertanamnya nilai budi pekerti di kalangan massyarakat, lebih-lebih penekananya pada generasi muda. Padahal generasi muda seharusnya menjadi tulang punggung keberhasilan suatu tujuan dalam masyarakat, nusa dan bangsa. Dan ini tidak lepas dari dukungan orang tua, dunia pendidikan dan masyarakat luas. Kejadian dan contoh yang timbul dimasyarakat ini harus digaris bawahi untuk selanjutnya disikapi dengan kepedulian dari berbagai kalangan.
Dalam pandangan penulis, yogyakarta sebagai salah satu ‘central’ pendidikan dinegeri ini terbukti cukup kondusif untuk menekankan budi pekerti lewat anak didik, pendidik, orang tua, bapak/ibu kos, praktisi hukum serta berbagai lapisan masyarakat yang perduli terhadap keberhasilan bangsa beradab. Dalam rangka menyikapi masalah ini, seiring dengan masuknya tahun ajaran baru 2003/2004 secara bersamaan telah dimasukan konseep nilai-nilai budi pekerti dalam pembelajaran disekolah-sekolah di kota Gudek ini, didukung kepedulian orang tua dan masyarakat. Penanaman budi pekerti ini diaktualisasikan melalui konsep yang telah dikembangkan KH Dewantara, yaitu Tri pusat pendidikan. Pertama, pendidikan orang tua. Orang tua dalam keluarga harus berfungsi ganda yaitu sebagai pengayom bagi anak-anaknya sekaligus sebagai pendidik. Ayah dan ibu harus bisa memberi contoh tindakan yang benar dan menilai mana yang salah, sehingga anak bisa menilai mana yang harus dilakukan ataupun yang harus ditinggalkan. Orang tua melakukan perbuatan yang baik untuk ditiru, harapannya adalah anak menjadi manusia yang berguna bagi pribadi, keluarga, agama, massyarakat dan bangsa.
Kedua, pendidikan sekolah. Pendidikan dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi harus mampu menanamkan nilai-nilai kepribadian, sosial dan nilai moral pada anak didik, sehingga anak tersebut merasa telah diasu hingga dewasa dan berdaya guna bagi keluarga, masyarakat dan agama. Para praktisi pendidikan harus menyisipkan nilai budi pekerti disela-sela proses belajar mengajar agar proses pendidikannya berhasil sesuai yang diharapkan. Untuk itu, guru ataupun dosen harus memiliki kemampuan dasar pembelajaran di kelas, memiliki strategi manajemen tentang pembelajaran, memiliki kemampuan dalam memberikan umpan balik dan penguatan terhadap anak didik, memiliki kemampuan terhadap peningkatan diri sendiri agar tetap berkharisma dan menjadi suri tauladan bagi peserta didik.
Dalam proses pendidikan semua guru/doseen baik pegawai negeri sipil, maupun honorer sebaiknya menyadari bahwa tugas yang diemban dalam mengajar disamping mendapatkan gaji, harus dibarengi niat luhur dan sosial untuk meenanamkan nilai-nilai budi pekerti bagi para peserta didik. Sehingga melalui pendidikan ini anak didik bisa mencerminkan nilai-nilai moral, sosial dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi insan yang beradab.
Ketiga, pendidikan dilingkungan masyarakat. Masyarakat pada umumnya terdiri dari berbagai lapisan yang berbeda-beda baik usia, pendidikan, ekonomi dan status sosial maupun latar belakangnya. Dari anggota masyarakat yang beragam ini hendaknya bisa dikendalikan dengan menghidupkan play group dan taman pendidikan Al-Qur’an, kelompok remaja dan pemuda dengan pembinaan melalui pertemuan rutin, temporer dalam lingkup rukun warga atau karang taruna, kelompok dewasa dan orang tua melalui pertemuan tingkat rukun tetangga, rukun warga atau paguyuban yang lain dengan siraman rohani dan keterampilan-keterampilan. Dari masyarakat heterogen ini diharapkan saling peduli untuk memberikan teguran, pembinaan dan contoh-contoh yang rasional terhadap anggota masyarakat agar bisa diterima, saling menyadari kearah kebaikan.sehingga semangat gotong royong dalam masyarakat bisa dirasakan manfaatnya.
Dari ketiga lingkungan pendidikan, yaitu lingkungan orang tua,lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat harus saling kerja sama dalam mewujudkan manusia yang bermoral dan beradab dalam kehidupannya. Di jogjakarta sebagai gambaran aktual dan faktual kondisi bangsa Indonesia pada umumnya, ada penurunan nilai sosial terhadap sesama manusia, rasa hormat, angkatan muda terhadap orang tua mulai luntur, keberadaan anak kos dipandang sebagai nilai ekonomi/sewa semata, belum direngkuh sebagai mana mestinya berdasarkan azas kekeluargaan. Ketiga lingkungan ini harus saling mendukung pendidikan budi pekerti ini. Sejak SD-SLTA bahkan sebaiknya ditindak lanjuti diperguruan tinggi.
Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, kreatif, mandiri, estetis dan demokratis serta memiliki rasa kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan luhur dari pendidikan nasional ini diharapkan bisa terwujud berdasarkan peran serta dari seluruh bangsa indonesia lahir maupun batin. Dari kota pelajar Yogyakarta ini, secara bersama-sama telah dimulai semangat untuk saling peduli terhadap keberhasilan pendidikan nasioanal maupun internasional. Dibangsa yang katanya berbudi luhur ini, selain proses pembelajaran yang sudah diberikan disekolah seyogyanya dibarengi penanaman nilai-nilai budi pekerti yang luhur.
Dalam mempertahankan predikat baik kota Yogyakarta sebagai kota pelajar, kota pariwisata dan kota budaya ini didukung beberapa hal.Pertama, melalui Tri pusat pendidikan yang berkelanjutan, pelajar bisa terkontrol dalam prilakunya, kemudian secara bersama-sama mewujudkan tindakan yang bermoral dan beradab. Kedua, mata pelajaran budi pekerti sebaiknya ditanamkan sejak dini dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Ketiga, keberadaan anak kos harus diperhatikan dan dibina supaya tidak lepas dari tujuan utama untuk belajar, mendapatkan ilmu kemudian mengamalkannya. Dalam hal ini, harus ada kontrol sosial dan kepedulian orang tua, sekolah dan masyarakat secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.
Keberadaan anak kos baik dari Yogyakarta maupun dari luar daerah diperhatikan dan ditanamkan rasa kebersamaan melalui pendekatan kekeluargaan bahwa anak kos merupakan keluarga baru sekaligus menjadi tanggung jawab keluarga tersebut. Hubungan sesama anak kos layaknya saudara baru yang sama-sama mencari ilmu, untuk itu masing-masing harus saling menyesuaikan agar tenggang rasa tercipta demi keakraban bersama. Pemilik kos juga sebaiknya secara rutin dan temporer meluangkan waktu untuk mengontrol sarasehan, arisan, kerja bakti dan kegiatan-kegiatan positif lainnya.
Akan lebih baik jika masyarakat peduli akan keberhasilan generasi muda baik dalam belajar maupun bekerja, sehingga generasi berikutnya menjadi orang yang berkualitas, produktif, serta memiliki ilmu yang bermanfaat. Masyarakat secara bersama-sama berkumpul dengan melibatkan penduduk asli dan pendatang baik tua maupun muda.
Media berkumpul itu bisa dalam sarasehan latihan nyinom, latihan memberikan sambutan, latihan menjadi pembawa acara dan lain-lain. Dengan sarasehan latihan seperti itu anak akan merespon nilai budi pekerti, nilai sosial dan keakraban. Anak kos akan pulang kedaerahnya, disamping dengan keberhasilan ilmunya dengan membawa serta nilai-nilai kepribadian dan budaya dari kota Yogyakarta, yang secara otomatis memberi nilai plus tersendiri bagi kota ini.
Demi mempertahankan Yogyakarta sebagai kota pelajar dan mewujudkan sebagai kota budaya dan pariwisata, ini adalah wujud kepedulian bersama-sama dari orang tua, sekolah dan masyarakat. Pendidikan budi pekerti diikut sertakan dalam proses pembelajaran agar anak didik disamping mendapat ilmu pengetahuan juga nilai kepribadian yang tercermin dalam tindakan sehari-hari sebagai insan yang bermoral dan beradab.
Dengan kesadaran yang sama kita sama berharap semoga daerah kita tercinta dapat segera berbenah diri dalam memperbaharui dunia pendidikannya.

Materi termuat Buletin IPMALAY 05

Lying in the shadow of a 2914 meter-high pressure cooker, appropriately called Fire Mountain or Merapi, is the seat of the once mighty Javanese Empire of Mataram, Ngayogyakarto Hadiningrat. It is called Yogyakarta (Yogya) today and came into being in 1755, when a land dispute effectively split the power of Mataram into the Sultanates of Yogyakarta and Surakarta (Solo). The Sultan's Palace or Kraton of Yogyakarta was built by Prince Mangkubumi at this time and he used it as a focus to build the most powerful Javanese state since the 17th century. The Sultan's palace is still the hub of Yogyakarta's traditional life and despite the advance of 20th century modernity, it still radiates the spirit of refinement which has been the hallmark of its art for centuries.
Yogyakarta is one of the supreme cultural centers of Java. Full Gamelan orchestras create visions from the past, classical and contemporary Javanese dances exhibit beautiful control and poise, wayang kulit - leather puppet theaters - come to life and hundreds of other traditional illustrations of art keep lokals and visitors spellbound.It is as if the city itself has an extraordinary life force and charm which seldom fails to captivate.
Contemporary art has also grown in the fertile soil of Yogyakarta's cultural and sophisticated society. ASRI, the Academy of Fine Arts, for example, is the centre of arts in the region and Yogyakarta itself has given its name to an important school of modern painting in Indonesia, perhaps best illustrated by the renowned impressionist, the late Affandi.The province is one of the most densely populated areas of Indonesia and is the main gateway to the centre of Java where it is geographically located. It stretches from mighty Mount Merapi to the North down to the powerful Indian Ocean to the South. Daily air services connect Yogyakarta to Jakarta, Surabaya and Bali, while regular trains ply similar routes and thousands of buses offer easy accessibility by road.

Materi termuat Buletin IPMALAY 05
Nikmati bersama suasana jogja……
Awalnya adalah pesanggrahan untuk istirahat para raja mataram. Perkembangan zaman menyulapnya menjadi kota tak pernah istirahat.
Ketika kerajaan mataram belum terbagi dua, jogja adalah kota kecil yang indah dan pesanggrahan Garjitiwati milik penguasa waktu itu, sri susuhunan Amangkurat jawi. Setelah sri susuhunan Paku Buwono II bertahta, nama pesanggrahan itu berganti menjadi Ngayogya.
Sejak ditemukan oleh para pendirinya, kawasan hutan beringin di selatan Gunung Merapi ini memang dijadikan peristirahatan Raja Kartasura. Sampai munculnya perjanjian Gianti tahun 1775 yang membagi mataram menjadi dua, sekaligus menjadi awal pembangunan ibu kota kerajaan Ngayogya Adiningrat.
Kerajaan baru yang didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I ini, dibangun dengan konsep kosentris yang menempatkan kraton sebagai negara agung dan pusat pemerintahan kerajaan. Di sekeliling kraton terdapat alun-alun, pasar, benteng, penjara, masjid, dan pemukiman penduduk.
Penataan kota jogja selain memperhitungkan fungsi tiap bagian kota juga memiliki makna simbolis. Misalnya, ditengah alun-alun terdapat sepasang beringin yang terkurung dan terpisah, menggambarkan manunggaling kawula gusti. Maknanya peringatan bagi raja agar menjalankan kerajaan dengan adil.
Hingga sekarang sebagian tata kota kraton masih berfungsi dan diperthankan keberadaanya. Tapi sebagian sudah tinggal kenangan karena harus bersaing dengan budaya populer yang menyerbu jogja dengan ganas.
Persaingan antara budaya barat dan kraton menjadi realitas cepat atau lambat akan merubah wajah jogja. Kebudayaan kraton yang sejak awal dijadikan simbol perwujudan budaya jawa, melawan barat yang identik dengan peradaban kapitalis.
Ibarat petinju, pertama-tama peradaba kapitalistik menyarangkanpukulan mautnya keperut orang jogja. Restoran-restoran cepat saji, seperti Kentucky Fried Chicken, MC Donals,Pizza Hut, dan Dunkin Donuts, menjadi sarana mengubah pola dan gaya hidup orang jogja. Berbeda dengan makan dilesehan yang membolehkan pengunjung ngobrol sampai larut tanpa menghiraukan waktu, direstoran – restoran dunia itu makan benar – benar menjadi sekedar aktivitas rutin yang harus segera diselesaikan.
Sebuah budaya barat lainnya yang turut mengubah wajah jogja adalah makin maraknya mal, supermarket dan kafe yang dengan cepat telah membuar sebagian jogja menjadi seperti yang sering muncul disinetron – sinetron indonesia.
Disisi lain, jogja telah menjelma menjadi kesibukan rutin dari siang hingga malam. Jalan – jalan beraspal tak pernah sepi dari kendaraan bermotor dan orang – orang.
Jalan malioboro, salah satu trade mark jogja, bahkan nyaris tidak pernah sepi. Pedagang, pelancong, pelajar, dan pencari hiburan memadati jalan legendaris ini. Kini, jogja menjadi kota yang tidak mengenal kata istirahat.

Nikmati bersama suasana jogja……
Ritual budaya
Belajar budaya jawa belum lengkap tanpa menyaksikan berbagai ritual khas jogja. Ritual kahs jogja yang sering dirayakan besar – besaran antara lain Grebeg Sekaten dan Labuhan. Grebeg dilakukan 3 kali setahun yaitu ; Grebeg besar yaitu pada hari raya idul adha, Grebeg sawal pada hari raya Idul Fitri dan Grebeg maulud untuk memperingati hari kelahiran nabi Muhammad yang juga dimeriahkan dengan sekaten tiap tanggal 5-11bulan maulud. Labuhan untuk memperingati hari lahir raja jogja, Sri Sultan Hamengku Buwono.
Selain itu ada Sendaratari Ramayana di Candi Prambanan, Mubeng Benteng, Jamasan ( pencuci kraton), ngurasenceh dimakam raja – raja imogiri, Upacara Bekakak di Gamping, Tumplak Wajik ( dua hari sebelum Grebeg ) dan saparan. Banyak khan?
Malioboro
Sebutan lamanya adalah “Dari teteng sepur sampai stopan gantung”. Malioboro menjadi saksi perjalanan aktivitas wong jogja. Dulu,..pernah jadi café terpanjang”. Orang bisa makan sambil menikmati orkestra jalanan, nongkrong wedangan sambil berdiskusi urusan asmara, kesenian sampai politik.
Kini, malioboro jadi pusat kegiatan ekonomi. Orang ke malioboro kebanyakan hanya ingin belanja. Romantisme lesehan malam hari sering mendapat banyak keluhan dari orang yang kaget ketika disodoro nota. Bagaimanapun, malioboro masih jadi daya tarik jogja.
Nonton film
Jogja tinggal punya 4 buah bioskop. Kondisi ini sering dimanfaatkan mahasiswa untuk membuat bioskop kampus. Dengan tiket masuk antara Rp 1500 sampai Rp 2000, kamu bisa menikmati film terbaru lewat layar lebar. BPA sospol, KPTU Teknik dan LAKFIIP adalah tempat pemutaran Film di lingkungan kampus.
Pemutan film sering juga digelar di Gedung Societet Militer, lembaga indonesia perancis, PPG kesenian serta gedung pertunjukan kompleks ISI jogja.
Pasar
Selain Bringharjo dan Kranggan sebagai pasar utama, dijogja ada pasar buku yang populer dengan sebutan Shopping Center. Ada juga pasar hewan di Kuncen. Pasar burung di Ngasem. Pasar sepeda di Terban.
Kalau ingin cari barang bekas, ada pasar klitian yang dapat dijumpai di Pasar Bringharjo, Asem Gede, jalan Diponegoro dan jalan Mnagkubumi pada malam hari. Ada pula pasar kembang, tapi jangan harap kamu temukan kembang disana.
Makanan
Satu yang perlu dipersiapkansebelum tiba di kota Jogja adalah membiasakan lidahmu dengan rasa manis. Hampir semua warung masakannya berasa manis, apalagi yang khusus menyuguhkan masakan jogja seperti Gudeg. Bila kamu ingin mencicipi Gudeg, tak perlu bingung mencarinya. Gudeg tersedia dipasar tradisional, penjaja keliling, warung sampai restoran.
Selain Gudeg, masih ada makanan khas berasa manis lainnya seperti tiwul, gatot, sawut klepon, getuk, bakpia, geplak, wingko babad dan yangko.
Kotagede
Terkenal dengan sebutan kota perak karena sejak dulu banyak pengrajin perak.

;;